Skip to main content

Sisi Kelam Amazon dan Pekerja yang Terpaksa Bertahan

Mungkin sebagian besar dari Anda yang masuk membaca artikel ini sudah paham mengenai situs multinasional Amazon yang lebih dikenal sebagai e-Commerce internasional. Yap, Amazon memang mal online terbesae di dunia, setidaknya hingga saat ini.

Sisi Kelam Amazon dan Pekerja yang Terpaksa Bertahan

Jeff Bezos sebagai pendiri sekaligus pemilik Amazon memulai semua bisnisnya dari sebuah garasi mobil di samping rumahnya. Kesuksesannya tidak diraih dengan mudah begitu saja, Jeff harus melewati segala macam rintangan yang menerpa selama menggeluti bisnisnya.

Semua tantangan sudah terlewat, kini Jeff Bezos resmi jadi salah satu orang terkaya di dunia. Februari 2020 ini dia baru saja membeli satu unit rumah mewah seharga 165 juta dolar AS, alias setara Rp2,2 triliun.

Angka itu hanya sekian persen dari total pendapatannya selama setahun. Gaji Jeff Bezos itu per menit Rp2,2 miliar, per jam dia dapat Rp122 miliar. Sementara untuk pekerja di lapangan seperti kurir, petugas pabrik, pembungkus paket, dibayar $15 atau sekitar Rp200 ribuan, butuh waktu 68 tahun lamanya bagi pekerja & staf Amazon untuk menyamakan nominal satu jam gaji Jeff Bezos.

Di balik semua kisah kesuksesan Jeff Bezos bersama Amazon tentu ada yang harus dikorbankan yakni sisi gelap mereka. Sudah bukan rahasia lagi dan bahkan beredar berita di media online internasional & lokal, bila staf Amazon harus terus bekerja 12 jam tanpa keluar area dimana dia ditugaskan.

Ada yang terpaksa kencing di botol selagi membungkus paketan pembeli, ada juga yang tidur di pojokkan pabrik. Semua itu mendapatkan kecaman dunia, mengingat mereka para staf & kurir tidak dibayar dengan layak sesuai pengorbanan mereka ketika bekerja.

Amazon memang mengutamakan kepuasan pelanggan, tapi tidak dengan kurir atau karyawan mereka sendiri. Seorang mantan kurir Amazon UK di Inggris pernah membongkar blakblakan bagaimana ia dipekerjakan, dia harus mengantarkan paket rerata sebanyak 200 kiriman per hari dalam waktu 24 jam.

24 jam itu tentu tidak semua dia pakai untuk bekerja, karena kurir pun manusia yang butuh makan, tidur, istirahat dan sebagainya. Sedangkan paketan yang mesti dikirim jumlahnya ratusan memiliki tenggat waktu hanya 24 jam saja sejak dia berangkat dari gudang.

"Aku tidak pernah melakukannya sebelumnya, tapi semenjak tergabung di Amazon sebagai driver pengirim barang, aku jadi lebih sering melampaui batas kecepatan rata-rata ku ketika menyetir kendaraan." ungkap pria asal Sunderland berinisial JG tersebut.

JG ditugaskan di depot Amazon UK yang terletak di kota Sheffield, Inggris. JG dan teman-temannya bahkan harus membayar sewa mobil van hingga membayar asuransi sendiri tanpa jaminan perusahaannya, ia mengklaim bayaran yang diterimanya bersama rekan-rekannya jauh di bawah Upah Minimum Nasional di Inggris.

Dua bulan pertama JG mengaku masih belum percaya dengan pekerjaan barunya, ia bahkan sempat berpikir untuk langsung mengundurkan diri dari tugasnya. Namun dia terpaksa bertahan karena kabarnya ada regulasi kontrak kerja yang mewajibkan para pekerja Amazon melakukan tugasnya selama minimal enam bulan.

"Kami akan mendapatkan konsekuensi yang amat berisiko jika memutuskan berhenti sebelum batas minimal durasi kontrak kerja." ujar JG yang kemudian keluar dari Amazon pada bulan ke-8.

Rahasia kemudian terbongkar, di Inggris, Amazon mempekerjakan karyawan dari sejumlah perusahaan outsourcing. Hal ini guna menghindari pemberian cuti dan bonus dengan alasan apa pun.